Rahasia Aku Dan Kamu

Bokep JepangAugust 30, 2018

FilmBokepJepang – Cerita 17 tahun Rahasia Duni Ketika itu saya baru berdiri 12 tahun, sebagai anak tunggal. Sewaktu orang tua saya sedang keluar negeri. Teman baik ibuku, Tante Susi, yang dipanggil 26 tahun, pesan oleh orang tuaku untuk tinggal di rumah menjagaiku. 

Karena harus keluar kota, Tante Susi akan menginap di rumahku sendirian. Tante Susi tubuhnya terasa tinggi, rambutnya dipotong pendek sebahu, kulitnya putih bersih, muka ayu, pakaian dan gayanya seksi. Tentu saja saya sangat setuju sekali untuk ditemani oleh Tante Susi. Baca cerita 17tahun “sekarang hanya di 17tahun1.com.

Biasanya, setiap ada kesempatan saya suka memainkan laptopku sendirian. Tapi belum pernah sampai keluar, waktu itu saya masih belum mengerti apa-apa, hanya karena nikmat nikmat. 

Tempat rumah tangga kosong dan Tante Susi juga belum datang. Setelah pulang sekolah, saya ke kamar tidur saya alias memijit-mijit hatiku sembari menghayalkan tubuh Tante Susi yang seksi. Kubayangkan seperti yang pernah kulihat di film porno dari teman-temankuku di sekolah. 

Selagi asyiknya bermain bersama tanpa kusadari Tante Susi sedang tiba di rumahku dan tiba-tiba saja ada pintu kamarku yang terlupakan kukunci.

Dia sedikit tercengang waktu melihatku berbaring diatas ranjang telanjang bulat, sembari memegangi kemaluanku yang berdiri. Aduh malunya setengah mati, ketangkap basah lagi mainin burung. Segera kututupi kemaluanku dengan bantal, wajahku putih pucat. 

Melihatku ketakutan, Tante Susi hanya tersenyum dan berkata “, Eh, kamu sudah pulang sekolah Asan., Tante juga baru saja datang”. Saya tidak berani menjawabnya. 

“Tidak usah takut dan malu sama Tante, itu hal biasa untuk anak-anak mainin burungnya sendiri” ujarnya. Saya tetap tidak berani berkutik dari tempat tidur karena sangat malu. 

Tante Susi lalu menambahkan, “Kamu terusin saja mainnya, Tante hanya mau membersihkan kamar kamu saja, kok”.

“Tidak apa-apa kan kalau Tante terlihat melihat permainanmu”, sembari melirik menggoda, dia kembali berkata “Kalau kamu mau, Tante bisa tolongin kamu, Tante dimengerti kok dengan permainanmu, Asan.”, Tambahnya sembari mendekatiku. 

“Tapi kamu tidak bisa bilang siapa-siapa yah, ini akan menjadi rahasia hanya saja”. Saya tetap tidak bisa menjawab apa-apa, hanya mengangguk kecilpun saya tidak begitu mengerti apa maksudnya.

Tante Susi pergi ke kamar mandi mengambil Baby Oil dan segera kembali ke kamarku. Lalu dia berlutut di hadapanku. Bantalku diangkat perlahan-lahan, dan saking takutnya kemaluanku segera mengecil dan segera kututupi dengan kedua telapak tanganku. 

“Kemari dong, kasih Tante lihat permainanmu, Tante menjanjikan akan berhati-hati deh”, kata sembari membujukku. 

Tanganku membuka dan mata Tante Susi mulai turun ke bawah selangkanganku dan memperhatikan kemaluanku yang mengecil dengan teliti. 

Dengan perlahan-lahan, dia mengalirkannya dengan kedua jarinya dan menurunkannya, dengan tangan yang satu lagi dia meneteskan Baby Oil itu di kepala kemaluanku, senyumnya tidak pernah lepaskan tulisan yang cantik.

“Tante pakein ini suka rada licin, kamu pasti suka deh” kata sembari mengedipkan sebelah gelap.

Malunya setengah mati, belum ada orang yang pernah melihat kemaluanku, apa lagi menutupinya. Hatiku berdebar dengan kencang dan wajahku merah karena malu. Tapi sentuhan itu terasa halus dan hangat. 

“Jangan takut Asan., Kamu rebahan saja”, sayu membujukku.

Setelah sedikit tenang mendengarkan suaranya yang halus dan yakin, saya dapat mengakses elusan alam yang lembut.

Tangannya sangat mahir memainkan kemaluanku, setiap sentuhannya membuatku lebih nyaman dengan kenikmatan dan jauh lebih nikmat dari sentuhan tanganku sendiri.

“Lihat itu sudah mulai membesar kembali”, kemudian Tante Susi melumuri Baby Oil itu ke seluruh batang kemaluanku yang mulai menegang dan kedua bijinya. 

Kemudian Tante Susi mulai mengocok kemaluanku digenggamannya perlahan-lahan sambil membuka lebar kedua pahaku dan mengusap bijiku yang mulai panas membara.

Kemaluanku terasa kencang sekali, tegak lurus dilihat dihadapan muka Tante Susi yang cantik. Perlahan Tante Susi mendekati mukanya kearah selangkanganku, seperti sedang mempelajarinya. 

Terasa napasnya yang lembut berhembus di paha dan di bijiku dengan halus. Saya hampir tidak bisa percaya, Tante Susi yang baru saja kukhayalkan, sekarang sedang berjongkok di antara selangkanganku.

Setelah kira -kira lima menit kemudian, saya tidak bisa tahan rasa geli dari godaan jari-jariungsi. Tidak bisa berdiam apa saja di ranjang dan mulai setiap irama kocokan tangan Tante Susi yang licin dan berminyak. 

Belum pernah saya merasa seperti ini, semua kenyamanan duniawi ini seperti berpusat tepat ditengah-tengah selangkanganku. Mendadak Tante Susi kembali berkata, “Ini pasti kamu sudah hampir keluar, dari pada akhirnya kotorin ranjang Tante hisap saja yah”. 

Saya tidak mengerti apa yang dia maksud. Dengan tibatiba Tante Susi mengeluarkan lidahnya dan menjilat kepala kemaluanku lalu menyusupinya perlahan ke dalam mulutnya.

Hanya saja saya lahir dari atas ranjang. Karena bingung dan kaget, saya tidak tahu harus membikin apa, kecuali membuat pantatku ke dalam ranjang. 

Tangannya segera disusupkan ke bawah pinggulku dan diangkatnya dengan turunkan dari atas ranjang. Kemaluanku terangkat tinggi seperti diperiapwa diperaksikan mukanya. Kembali lidahnya menjilat kepala kemaluanku dengan halus, sembari menyedot ke dalam mulutnya. 

Bibirnya merah merekah tampak sangat seksi perlindungan seluruh hatiku. Mulut dan lidahnya terasa sangat hangat dan basah. Lidahnya dipermainkan dengan sangat mahir. 

Matanya tetap melihat mataku seperti untuk meyakinkanku. Tangannya kembali menggenggam kedua bijiku. Kepalanya mencari turun naik disepanjang kemaluanku, aku berasa geli setengah mati. Ini jauh lebih nikmat dipakai memakai hiburan.

Sekali-sekali Tante Susi juga menghisap orang lain yang bergantian dengan gigitan-gigitan kecil. Dan terus menerus ke bawah menjilat lubang pantatku dan membuat lingkaran kecil dengan ujung lidahnya yang terasa sangat liar dan hangat. 

Saya hanya dapat berpegang erat ke bantalku, sembari menstabilkan rintihanku. Kudekap mukaku dengan bantal, setiap sedotan kurasa seperti yang saya inginkan menjerit. 

Napasku tidak dapat diatur lagi, pinggulku menegang, kepala saya mulai pening dari kenikmatan yang tepat antar selangkanganku. 

Mendadak kurasa suka suka suka uangku. Karena rasa takut dan panik, kutarik pinggulku kebelakang. Dengan seketika, seperti aku hidup, berdenyut dan menyemprot cairan putih yang lengket dan hangat ke muka dan ke rambut Tante Susi. 

Seluruh badanku bergetar dari kenikmatan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Saya tidak sanggup untuk menahan kejadian ini. Saya merasa telah menemukan kesalahan yang sangat besar. 

Dengan napas yang terengah -engah, saya minta maaf kepada Tante Susi atas peristiwa tersebut dan tidak berani untuk berbicara.

Tapi Tante Susi hanya tersenyum lebar, dan berkata

“Tidak apa-apa kok, ini memang harus begini”,

kembali dia menjilati cairan lengket itu yang mulai meleleh dari ujung bibirnya dan kembali menjilati semua cairan dari perpustakaanku. 

“Tante suka kok, rasanya sedap”, tambahnya.

Dengan penuh pengertian Tante Susi menerangkan bahwa cairan itu adalah air mani dan itu wajar untuk dikeluarkan sekali-sekali. Kemudian dengan penuh kehalusan dia membersihkanku dengan handuk kecil dan menciumku dengan lembut dikeningku.

Setelah semuanya mulai mereda, dengan malu-malu saya bertanya,

“Apakah perempuan dan melakukan hal seperti ini?”. 

Tante Susi menjawab “Yah, kadang-kadang kita orang perempuan juga melakukan itu, tapi entah itu yang lain”. 

Dan Tante Susi berkata yang kalau mau mau, dia bisa menunjukkannya. Tentu saja saya suka yang saya mau menyaksikannya.

Kemudian jari-jari tangan Tante Susi yang lentik dengan perlahan mulai membuka kancing-kancing bajunya, memperagakan tubuh yang putih. 

Waktu kutangnya dibuka buah dadanya melejit keluar dan tampak besar membusung dibandingkan dengan perutnya yang mengecil ramping. 

Kedua buah dadanya bergelayutan dan bergoyang dengan indah. Dengan sentuhan halus Tante Susi kedua tanganku dan meletakannya di atas buah dadanya. Rasanya empuk, kejal dan halus sekali, ujungnya keras sekali. Putingnya warna coklat tua dan besar. Tante Susi memintaku untuk menyentuhnya. 

Karena belum ada pengalaman apa-apa, saya pencet saja dengan kasar. Tante Susi kembali tersenyum dan mengajariku untuk mengelusnya perlahanlahan. Putingnya agak sensitif, jadi kita harus lebih cepat disana, katanya. Tanganku mulai meraba tubuh Tante Susi yang putih bersih itu. 

Kulitnya terasa sangat halus dan panas membara di bawah telapak tanganku. Napasnya memburu setiap kusentuh bagian yang tertentu. Saya mulai dari tempat-tempat yang disukainya.

Tidak lama kemudian Tante Susi memintaku untuk menciumi tubuh. Ketika saya mulai menghisap dan menjilat kedua buah dadanya, putingnya terasa mengeras di dalam mulutku. 

Napasnya semakin menderu-deru, membuat buah dadanya turun naik bergoyang dengan irama. Lidahku mulai menjilati seluruh buah dadanya ke arah berkilat dengan udara liurku mukanya tampak gemilang dengan penuh gairah. Bibirnya yang merah merekah digigit seperti sedang menahan sakit. 

Roknya yang seksi dan ketat mulai tersibak dan kedua lututnya mulai melebar perlahan. Pahanya yang putih seperti susu mulai terbuka menantang dengan gairah di hadapanku. 

Tante Susi tidak berhenti mengelus dan memeluki tubuhku yang masih telanjang dengan kencang. Tangannya menuntun kepalaku ke bawah kearah perutnya. Terus ke bawah ciumanku,

makin terbuka kedua pahanya, roknya tergulung ke atas. Saya bisa melihat pangkal pahaalaman dan terlihat bulu yang hitam halus mengintip dari celah celana itu. Mataku tidak dapat melepaskan pemandangan yang sangat indah itu.

Kemudian Tante Susi berdiri tegak di hadapanku dengan bertahap Tante Susi memulai membuka kancing roknya satu persatu dan pergi roknya terjatuh di lantai. 

Tante Susi berdiri di hadapanku seperti seorang putri khayalan dengan hanya memakai celana putih, kecil, dan seksi. Tangannya ditaruh di pingulnya yang putih dan tampak serasi dengan kedua buah dadanya diperagakannya di hadapanku. 

Pantatnya yang hanya sedikit tertutup dengan celana dalam seksi itu bercuat menungging ke belakang. Tidak kusangka yang seorang wanita dapat terlihat begitu indah dan menggiurkan. Saya sangat terpesona melihat wajah dan kecantikan yang bercahaya dan penuh gairah.

Tante Susi menerangkan bagian tubuh yang bawahnya juga harus dimainkan. Sambil merebahkan dirinya di ranjangku, Tante Susi memintaku untuk menikmati bagiannya yang terlarang. Saya mulai meraba-raba pahanya yang putih dan celana itu yang ternyata lembab dan bernoda. 

Pertama-tama tanganku bergemetar, basah dari keringat dingin, tapi melihat Tante Susi sungguh-sungguh menikmati semua perbuatanku dan juga mulai tertutup, napasnya semakin mengencang. Saya semakin berani dan lancang merabanya. Kadang-kadang jariku kususupkan ke dalam celana yang tersembunyi bulunya yang lembut. 

Celana itu semakin membasah, noda di bawah celana itu semakin membesar. Pingulnya terangkat tinggi dari atas ranjang. Kedua pahanya semakin melebar dan kemaluannya tercetak jelas dari celana yang sangat bagus itu.

Setelah beberapa lama, Tante Susi dengan merintih memintaku untuk membuka celana dalamnya. Pinggulnya Beli sedikit Dapat saya turunkan celana ke bawah.

Tante Susi berbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun yang memfokuskan tubuhnya. Disitu untuk pertama kali saya dapat menyaksikan dari jarak yang dekat dan hanya dari majalah. Bulu-bulu di atas kemaluannya itu tampak hitam lembut, tumbuh dengan halus dan rapi dicukur, sekitar kemaluannya telah dicukur hingga bersih membuat lekuk kemaluannya tampak dari depan. 

Tante Susi membuka selangkangannya dengan lebar dan menyodorkan kewanitaannya kepadaku tanpa sedikit rasa malu. Sembari bangkit duduk di tempat tidur, Tante Susi memintaku untuk berjongkok di antara kedua pahanya untuk memperhatikan vagina nya dari jarak dekat.

Dengan nada yang ramah, Tante Susi menggunakan jari-jari sendiri dengan halus, menerangkan kepadaku satu persatu seluruh bagian tubuh bawahnya. 

Tempat-tempat dan cara-menyenangkan untuk menyenangkan seorang wanita. Kemudian Tante Susi mulai menggunakan jari tanganku untuk diraba-rabakan kebagian tubuh bawahnya. 

Rasanya sangat hangat, lengket dan basah. Klitorisnya semakin membesar saya menyentuhnya. Aroma dari vaginanya mulai memuaskan udara di kamarku, aromanya menyenangkan dan bersih. Dari dalam lubang vaginanya perlahan-lahan keluar cairan lengket putih dan kental dan mulai melumuri semua permukaan lubang vaginanya. 

Apa yang sudah dilakukan dengan air maniku, saya kembali bertanya “Boleh nggak saya menulis air mani Tante?” Tante Susi hanya mengangguk kecil dan tersenyum.

Perlahan saya mulai menjilati pahanya yang putih dan sekitar lubang vagina Tante Susi yang merah dan lembut. Cairannya mulai mengalir keluar dengan deras ke selangkangannya. 

Lidahku tetesan dan mengalirnya cairan itu sampai balik ke asal lubangnya. Rasanya keasinan dengan sangat asli, tidak seperti kata orang, cairan Tante Susi sangat bersih dan tidak menarik amis. Demikian pula saya merilis alat kelamin Tante Susi, saya tahu bahwa saya dapat menjilatinya terus-menerus, karena saya sangat menyukai rasanya. 

Tante Susi mendadak menjerit kecil dengan menambah lidahku klitorisnya. Saya tersentak takut karena mungkin saya telah membuat sakit. Tapi Tante Susi kembali menjelaskan bahwa itu hal biasa jika seseorang mengerang waktu yang nikmat.

Semakin lama, saya semakin berani untuk menjilati dan menghisapi semua lubang vagina dan klitorisnya. Pinggulnya diambil naik tinggi. 

Tangannya tidak berhenti memeras buah dadanya sendiri, cengkramannya semakin menguat. Napasnya sudah tidak beraturan lagi. Kepalanya terbanting ke kanan dan ke kiri. Pinggul dan pahanya kadang-kadang mengejang kuat, berputar dengan pembohong. 

Kepalaku orang tergoncang keras oleh dorongan dari kedua pahanya. Tangannya mulai menjambak rambutku dan mencerminkan kepalaku erat kearah selangkangannya. Dari bibirnya yang mungil itu keluar desah dan rintihan untuk namaku, seperti irama di telingaku. 

Keringatnya mulai keluar dari setiap pori-pori yang membuat kulit tampak bergemilang di bawah cahaya lampu. Matanya sudah tidak memandangku lagi, tapi rapat tertutup oleh bulu mata yang panjang dan lentik. 

Sembari merintih Tante Susi memintaku untuk menyodok-nyodokkan lidahku ke dalam lubang vaginanya dan mempercepat iramaku. Seluruh mukaku basah tertutup oleh cairan yang bergairah itu.

Kemudian Tante Susi memintaku untuk memutar balik dia juga dapat menghisap pribadiku bersamaan. Setelah melumuri kedua buah dadanya yang busung itu dengan Baby Oil, Tante Susi menggosok-gosokkan dan menghimpit kemaluanku yang sudah keras kembali di antara buah dadanya, dan menghisapinya bergantian. 

Kemudian Tante Susi memintaku untuk lebih fokus di clitorisnya dan saranku untuk memasukkan jariku ke lubang vaginanya. Dengan penuh semangat, saya pertama kalinya mengetahui bahwa wanita itu dapat berasa begitu panas dan basah. Otot vaginanya yang mempelai jari-jarinya memijiti tanganku perlahan. 

Bibir dan lubang vaginanya tampak merekah, berkilat dan semakin memerah. Clitorisnya bercahaya dan membesar seperti ingin meledak. 

Sudah tidak beberapa lama, Tante Susi memintaku untuk memasukkan satu jariku ke dalam lubang pantatnya yang ketat. Dengan bersamaan, Tante Susi juga memasukkan satu jarinya pula ke dalam lubang pantatku. Tangannya dipercepat mengocok kemaluanku. 

Pahanya mendekap kepalaku dengan keras. Pinggulnya mengejang keras. Terasa dilidahku urat-urat sekitar dinding vaginanya berkontraksi keras kompilasi dia keluar. Saya menjerit keras bersama-sama Tante Susi sembari memeluknya dengan erat, tinggal di luar. 

Kali ini Tante Susi menghisap habis semua air maniku dan terus menghisapi proteinku sampai kering. Terasa dilidahku urat-urat sekitar dinding vaginanya berkontraksi keras kompilasi dia keluar. Saya menjerit keras bersama-sama Tante Susi sembari memeluknya dengan erat, tinggal di luar. 

baca juga : Polly Pengganti Pacarku

Cerita Lainnya:  Cerita Sex Menggoda Para Montir

Kali ini Tante Susi menghisap habis semua air maniku dan terus menghisapi proteinku sampai kering. Terasa dilidahku urat-urat sekitar dinding vaginanya berkontraksi keras kompilasi dia keluar. Saya menjerit keras bersama-sama Tante Susi sembari memeluknya dengan erat, tinggal di luar.

 Kali ini Tante Susi menghisap habis semua air maniku dan terus menghisapi proteinku sampai kering.

Setelah itu kita berbohong, terengah mengambil napas. Badannya yang berkeringat dan lemah, terasa sangat hangat memeluki tubuhku dari belakang, tetap menghangati dan mengenggam kemaluanku yang mengecil.

Aroma dari yang baru saja kami lakukan masih tetap. Wajahnya tampak gemilang bercahaya menunjukkan kepuasan, senyumnya kembali menghiasi ekspresi yang terlihat lelah. 

Lalu kita jatuh tertidur dengan angin yang sejuk meniup dari jendela yang terbuka. Setelah bangun tidur, kami mandi bersama. 

Waktu berpakaian Tante Susi mencium bibirku dengan lembut dan berjanji yang akan dia akan mengajari bagaimana jika kejantananku dimasukkan ke dalam kewanitaannya.

Hari ini, selama satu minggu penuh, setiap malam dan tidur di kamar tamu bersama Tante Susi dan mendapat pelajaran yang baru setiap malam. Setelah kejadian itu, kami tidak pernah mendapat hadiah untuk hubungan kami. 

Hanya ada pemutaran sekali, waktu orangtuaku diselenggarakan pesta di rumah, Tante Susi datang bersama nyata. Diater, waktu tidak ada orang lain yang melihat, Tante Susi mencium pipiku sembari meraba kemaluanku, tersenyum dan berbisik

“Jangan lupa dengan rahasia kita Asan.” Dua bulan kemudian Tante Susi pindah ke kota lain bersama. 

Sampai hari ini saya tidak akan bisa melupakan satu minggu yang terbaik itu di dalam sejarah hidupku. Dan saya merasa sangat beruntung untuk mendapatkan seseorang yang dapat mengajariku bersetubuh dengan cara yang sangat sabar,

(Visited 188 times, 1 visits today)
Categories
WhatsApp chat